Sabtu, 22 November 2008

ini untukmu ibu . . .

Aku memang bukanlah anak yang dapat kau harapkan untuk membahagiakanmu. Hari tuamu akan datang, aku tak bisa menyambutmu dan mengantarmu denagn kebahagiaan. Siapa yang percaya ketika aku akan menjadi bagian dari kebahagiaanmu nanti? Aku hanya bagian dari yang tersisih, dan aku takkan membiarkanmu menjadi bagian dari itu. Biarkanlah cukup mereka yang mempunyai pandangan seperti itu. Tapi percayalah, kau tetap menjadi sumber kehidupanku.


Aku telah mermpercayaimu dengan menjadi bagian dari kebangaan yang pernah ku miliki. Dan aku tak mau kau mengakhiri kebahagiaanku saat ini. Ibu, maaf bila aku pernah menuntutmu untuk terus memperhatikanku dan aku tak pernah membalas perhatianmu. Aku tak tahu kau akan membahagiakan kami anak-anakmu. Ku akui pernahku menyimpan secuil rasa kecewa untukmu. Dan aku sadar bahwa aku tak berhak melakukannya.


Ibu, sampaikan maafku pada setiap tetesan air matamu yang mengalir atas namaku yang telah membuatmu kecewa. Sampaikan juga pada setiap renungan yang pernah kau lalui karena aku yang tak pernah memperdulikanmu. Aku yang kau anggap tak pernah memperdulikanmu, sebenarnya . . . jauh dari hatiku selalu memperdulikanmu. Aku ingin kau ada ketika aku rapuh. Maaf jika aku tak pernah menghibur hatimu yang penuh amarah.

Pantaskah aku mencaci diriku, sedangkan kau yang memberi aku kesempatan pun tak pernah mencaciku? Lalu dengan apa aku dapat membahagiakanmu? Aku hanya punya janji 'tuk jadi anak yang berguna. Tapi bagiku itu saja tidak cukup untuk semua pengorbananmu. Apa juga yang akan kau katakan pada sang Ilahi tentang kami anak-anakmu?

Aku tak pernah berharap untuk mengecewakanmu. Bukan . . . bukan itu harapanku. Harapku hanya ingin agar kau bahagia, ibu! Maaf, jika aku tak dapat memahami sikapmu yang ingin selalu ada didekatku. Aku suka kau melakukannya, hanya saat ini aku merasa tiadk nyaman dengan keadaan itu. Apakah aku seperti Malin Kundang ? Aku harap aku tak pernah menyangkal bahwa kau adalah ibuku.

Aku tahu, aku selalu melakukan kesalahan yang berulang-ulang kali. Terkadang aku merasa tidak layak menjadi anakmu. Namun siapakah aku yang berhak berkata seperti itu? Ibu, aku ingin hari esok menjadi milik kita. Aku ingin sang surya dapat menyinari garis kita. Ibu, doakan aku agar aku bisa memerikan pagi menjadi milikmu.

Maaf jika aku tak dapat menyambutmu dalam pagimu dan tak dapat menunggumu hingga malan akan memisahkan kita. Ini bukan inginku, aku tak pernah berpikir 'tuk jauh darimu. Aku ingin selalu ada dalam pelukanmu. Aku ingin mendekapmu, tapi aku tak mampu. Ku akui ada keraguan yang begitu mendalam dalam pikiranku. Ini bukan sebuah alasan karena aku akan tetap berdoa untuk pertemuan kita. Natikan aku ibu . . .

2 komentar:

Johan mengatakan...

Waaa... aku jadi inget ibuku juga..
Nanti minggu depan aku pulang kekampung halaman ahh mo ketemu ibu tercinta...

God has so many miracle . . . mengatakan...

hehehe, salam y om am ibumu ^^

hiks, mother how are you today :(