Selasa, 24 Juli 2012

berbagi

"aku ingin kita berbagi..", ah lelaki ini selalu mengalihkan pembicaraan
"berbagi? kita?", aku mulai menggunakan topeng ke-pura-pura-an-ku demi melindungi hati.
"aku ingin bla.. bla.. bla... bla....", argh ia mulai menceritakan visi demi visi yang ia punya.
"aku tak bisa, visi dan misiku tidak seperti itu..", ujarku tanpa menghiraukan kalimat-kalimat penuh harapan yang baru saja ia racaukan. aku mengacaukannya.
"visi dan misi itu bisa disamakan, diawali dengan berbagi.. kau harus mulai berbagi denganku"
"aku tidak bisa.. banyak perkara yang membuatku harus menyimpan ceritaku sendiri. berbagi? aku sudah pernah melakukannya dan belum ingin melakukannya lagi dalam waktu dekat ini."
"perkara itu pendewasaan.."
lelaki ini benar, perkara itu pendewasaan tapi.. ah!
"aku tak ingin berbagi, jika kau ingin bersamaku.. silahkan. aku tak ingin berbagi. jika suatu saat kau pergi dariku, tak ada bagian dari ceritaku yang kau bawa pergi. aku pernah berbagi dengan seorang pria di masa lalu, dan ketika ia pergi... bukan hanya sebagian ceritaku yang hilang namun jiwaku pun demikian. aku tak ingin merasakan hal itu lagi."
"aku tidak akan kemana-mana.."
"aku tidak dapat mempercayai siapa pun. siapa pun. termasuk diriku. aku tidak ingin berbagi. que sera sera."
"aku ingin bla.. bla.. bla.. bla...", lelaki ini benar-benar bernyali. ia terus merayuku akan ambisi-ambisinya.
"kau selalu bilang 'aku ingin' dan aku selalu bilang 'aku tak bisa'.. ini bukan penolakanku atas semua ke-ingin-an-mu. aku hanya lelah berjalan tanpa tujuan. demi apa aku harus berbagi denganmu?"
"aku ingin mempunyai keluarga yang bla.. bla.. bla... bla.. bla..", lagi-lagi ia hanya peduli dengan apa yang ia inginkan.
"kau ingin? adakah kau menghitung berapa kali kau katakan 'aku ingin'?"
"kau kenapa?"
"ini seperti sebuah perdebatan akan pembagian sepotong kue dimana kau hanya mementingkan bagianmu saja. sedari awal kau tak tanyakan apa inginku.."


berbagi.. ah kata itu membuat sempat membuat seisi lambungku ingin berhamburan dari peraduannya.

berbagi. itu hanyalah sebuah konsep yang menurutku adalah awal dari perampasan jati diri. awalnya hanya sekedar berbagi cerita, kemudian berbagi hati dan untung-untung bisa sampe berbagi hidup. dan mulai beberapa waktu yang lalu, aku semakin menghindari konsep: berbagi.

jika pun aku berbagi, aku hanya ingin berbagi pada mereka yang tak menjanjikan bulan dan bintang padaku. aku hanya ingin berbagi dengannya. lelaki yang telah ku kebiri. lelaki yang selalu memaki betapa egoisnya aku.
"kasihan sekali aku, demi kepuasanmu berbagi kau merelakan diri terikat dengannya.."
"merelakan? haha.. kau bodoh! jika pun harus merelakan itu bukan demi berbagi.. tapi demi menjadi sama dengan manusia yang lainnya. lagi pula, tak ada yang lebih kasihan dari pada kau, aku dan dia"
"mari saling mengasihani diri sendiri.. hahaha"
"demi aku, kau melakukan hal ini. demi dia, aku melakukan hal ini.. dan kau? demikianlah kebodohan ini dilakukan. hahaha..."

yaa.. aku menceritakan banyak hal pada lelaki ini. lelaki yang telah ku kebiri oleh waktu. padanya aku menceritakan tentang hati dan hari. tapi aku tidak dapat berbagi hidup dengannya. ia telah ku kebiri karena aku ingin berbagi.

Tidak ada komentar: